Fuadhasyim’s Blog

Seminar Konseling dan bursa buku murah dengan tema “Profesionalisme Konselor Islam dalam Menghadapi Tantangan Global”
Pembicara : 1. Bapak Fauzil Adhim (Penulis Buku dan konselor profesional keluarga)
2. Bapak Farozin (Sekjen ABKIN dan Konselor Profesinal Pendidikan)

Waktu : Sabtu, 24 Oktober 2009
Pukul : 08.00-13.00 WIB
Tempat : Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kontribusi Peserta :
Mahasiswa UIN : Rp.10.000 Non UIN : Rp.15.000

Fasilitas :
Setifikat
Makalah Seminar
Snack
Stiker
Doorprize

Contac Person:
Fuad 085 649 130 668
Asih 081 904 082 563

PROBLEMATIKA PASCA MENINGGALNYA
ABU BAKAR AS-SHIDDIQ
(Dalam bingkai kekhalifahan Umar bin khattab)

BAB I
PENDAHULUAN

Umar bin khattab ialah salah satu sahabat nabi, beliau juga adalah termasuk sahabat-sahat yang ikut memperjuangkan Islam dalam perang terdahsyat, perang badar, kedekatan sosok umar bin khattab dengan nabi sudah tidak perlu diragukan lagi, beliau termasuk sahabat yang paling setia disisi nabi Muhammad SAW.
Pesona umar bin khattab dalam kalangan Quraisy sangat tinggi, beliau pada zaman sebelum masuk Islam ialah pemimpin yang paling disegani oleh seantero jazirah arab, oleh karenanya beliau diberi gelar Singa Padang Pasir yang ketika telah masuk Islam gelar tersebut masih melekat bahkan jauh lebih garang dalam melindungi nabi Muhammad SAW.
Ketika Rasulullah Muhammad wafat, rasul tidak memberikan mandat khusus bagi salah seorang sahabat untuk meneruskan kepemimpinannya, namun hanya memberi isyarat secara tidak langsung melalui penunjukan badal imam sholat kepada sahabat Abu Bakar As-Shidiq, abu bakar memimpin ummat muslim setelah terjadi musyawarah mufakat oleh para sahabat Shohibul Badar, kaum Anshar serta Muhajirin.
Pada ujung usianya Abu Bakar menuliskan surat wasiat yang ditujukan kepada ummat, didalamnya terdapat salah satu item yang menyebutkan meminta kesediaan Umar bin Khattab untuk meneruskan perjuang dakwah dengan memimpin ummat, seorang Umar bin khattab pun menerima amanat tersebut setelah dalam forum massal ummat menyetujui dan membaiat beliau.
Namun dalam pemerintahannya seperti Abu Bakar, umar juga menghadapi permasalah-permasalahan dan tantangan, atas dasar pendahuluan diatas penulis dalam makalah ini akan menyampaikan tentang “Problematika pasca meninggalnya Abu Bakar As-Shiddiq (Dalam bingkai kekhalifahan Umar bin khattab)” berdasarkan referensi yang penulis dapatkan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kekhalifahan Umar Bin Khattab
Umar bin khattab diangkat menjadi khalifa ummat muslim setelah mendapatkan amanat serta pesetujuan ummat islam yang ada, beliau mewakili sosok khalifa yang ideal untuk ummat saat itu, kehiduoannya sebagai seorang khalifah, seorang raja bagi rakyatnya dihiasi dengan kearifan dan kesederhanaan.
Perilaku kepemimpinan beliau mensiratkna suri tauladan yang baik, beliau merupakan pemimpin yang tidak tidur dimalam hari guna bermunajat dengan Allah SWT, dalam siangnya beliau memimpin dengan penuh keseriusan membimbing ummat dalam mencari ridho Allah SWT, beliau juga seorang pemimpin yang adil serta bijaksana.
B. Problematika Pasca meninggalnya Abu Bakar As-Shiddiq
1. KAUM MURTAD, PEMBANGKANG PAJAK DAN ORANG MUNAFIK
Permasalahan tentang kaum murtad, munafiq dan pembangkang pajak sebenarnya sudah ada sejak zaman abu bakar tepatnya setelah rasululloh wafat, namun ketika diperangi oleh abu bakar kaum ini sudah kalah dan kembali tunduk terhadap islam, ketika abu bakar meninggal dan menyerahkan kekhalifahan kepada umar bin khattab serta dengan persetujuan ummat dengan sistem musywarah mufakat, kaum ini kembali muncul pada masa kekhalifahan umar bin khattab. Sehingga untuk menjaga keutuhan ummat umar juga memerangi kaum ini sampai keakar-akarnya.
2. MENERUSKAN PERLUASAN WILAYAH DILUAR MAKKAH DAN MADINAH
Pada masa abu bakar perluasan kekuasaan dan dakwah juga telah dilakukan sampai keIraq, Persia, Syiria, umar pun meneruskan perluasan tersebut sampai ke Mesopotamia dan sebagian Persia, Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia.
Pada proses pengambil alihan wilayah Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang dikuasai oleh bangsa romawi timur terjadi peperangan yang dahsyat yang dikenal sebagai peperangan yarmuk, pada proses perebutan wilayah Syria, afrika utara, dan Armenia yang saat itu dikuasai oleh bangsa Persia juga terjadi peperangan besar yang dikenal sebagai perang Qadisiyyah.
Pada peperangan yarmuk kaum muslim dipimpin oleh Khalid bin Walid, danpada peperangan Qadisiyyah kaum muslim dipanglimai oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, uniknya pada kedua peperangan ini jumlah pasukan kaum muslim jauh lebih sedikit daipada pasukan lawan, namun berkat kekuasaan dan pertolongan Allah SWT yang pada saat itu berupa tiupan angin kepada pasukan musuh maka kaum muslimin pun dapat memenangi peperangan tersebut.
3. BELUM ADANYA PENGATURAN ADMINISTRASI NEGARA
Saat pemerintahan rasululloh dan abu bakar kekuasaan dijalankan dengan sedehana dan koordinasi perorangan oleh pemimpin, hal ini membuat kekuasaan tidak mencangkup luasa dan terstruktur sehingga perintah pemimpin belum tentu langsung dapat dijalankan dan dimengerti oleh rakyat yang ada diluar madinah.
Pada masa umar hal ini dirubah, umar bin khattab meletakan dasar-dasar administrasi Negara, mulai dari pembuatan instansi pemerintahan, kehakiman, pengolaha uang Negara serta pemberian hal otonom kepada pemimpin dinegara-negara atau wilayah-wilayah bagian ummat muslim.
4. BANYAKNYA MATA UANG YANG BEREDAR DIWILAYAH ISLAM
Karena mulai meluasnya daerah kekuasaan dan dakwah kaum muslimin sehinnga kaum muslimin bebas bepergian dan berdagang diwilaya-wilayah bagian, namun terdapat kendala adanya banyak mata uang yang dipakai oleh ummat untuk berdagang sehingga membingungkan dan mempersulit proses perdagangan saat itu.
Saat itu berkembang tiga jenis mata uang, yaitu mata uang yang dikeluarkan oleh suku Quraiys, mata uang yang dikeluarkan oleh bangsa romawi serta mata uang dari bangsa Persia, atas dasar hl itu ummat mengeluarkan perintah untuk menyamakan semua mata uang yang beredar diwilayah kaum muslimin, dengan ini dimulailah pemakaian mata uang yang sah yang dapat dipergunakan diwilayah ummat muslim yang dikeluarkan pada masa kkhalifahan umar bin khattab.
5. TIDAK ADA PENGORGANISASIAN PAJAK DAN GHANIMAH
Saat rasululloh perolehan ghanimah langsung dibagikan oleh kaum muslimin yang ikut berperang, pada masa abu bakar pun juga, namun pada masa abu bakar pemerintah sudah menarik pajak dari ummat yang diolah oleh pemerintah, tanpa ada instansi terkait.
Hal ini pada masa ummar bin khattab diperbaiki lagi sistemnya dengan pembentukn baitul mal sebagai tempat penerimaan pajak, zakat, ghanimah sekaligus sebagai tempat pendistribusiannya, umar menetapkan bahwa ghanimah perang tidak semuanya dibagikn kepada kaum muslim yang ikut berperang, namun juga diberikan kepada kaum yang ada diwilayah kekuasaan meskipun mereka kafir, tetapi atas kafir tersebut diwajibkan untuk membayar pajak pada pemerintahan umar, umar juga menghapus bagian zakat bagi kaum mu’alaf.

Daftar Pusataka

Murodi, Sejarah kebudayaan islam (MTS kelas 1), Toha putra, Semarang.
No name, Umar bin Khattab, http://www.wikimedia-indonesia.com, diakses 14 November 2008
Mambo, Umar bin Khattab Perkasa tapi Lembut, http://www.akmaliah.com, diakses 14 November 2008
Khoiru Ummatin, Artikel lepas tentang Hasil peradapan pasca kenabian.

MOTIVASI BERAGAMA
(Dalam kajian Psikologi Dakwah)
BAB I
PENDAHULUAN

Manusia ialah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan yang paling sempurna dari pada makhluk ciptaan yang lain karena diibekali oleh akal pikiran dan hawa nafsu secara sekaligus, manusia juga diberikan amanat oleh Allah SWT untuk menjadi pemimpin dan perawat bumi tempat tinggal manusia.
Manusia juga dilahirkan dalam keadaan fitrah dan memiliki insting untuk beragama, namun dikemudian orang tuanyalah yang menjadikan manusia tersebut majusi, nasrani atau pun islam, hal ini juga sesuai dengan hadits yang nabi sampaikan. Karena telah dibuktikan bahwa manusia memang dalam dunia ini dan kehidupan sehari-hari memang membutuhkan agama dan membutuhkn tempat bersandar, dalam hal ini ialah tuhan.
Motivasi yang terdapat dalam diri manusia memiliki berbagai macam jenis dan unsur-unsur yang dapat mempengaruhinya, terlebih lagi motivasi dalam beragama seseorang dan bagaimana memaknai agama sebagai suatu kebutuhan manusia itu sendiri.
Atas dasar pendahuluan diatas dalam makalah ini pemakalah akan mencoba menyajikan tema tentang motivasi beragama dalam kajian psikologi agama berdasarkan literature-literatur yang kami dapatkan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Motivasi merupakan dorongan dalam diri seseorang dalam usahanya untuk memenuhi keinginan, maksud dan tujuan.
Agama berarti segenap kepercayaan kepada tuhan atau dewa serta dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.
Motivasi atau dorongan beragama ialah merupakan dorongan psikis yang mempunyai landasan ilmiah dalam watak kejadian manusia. Dalam relung jiwanya manusia merasakan adanya dorongan untuk mencari dan memikirkan sang penciptanya dan pencipta alam semesta, dorongan untuk menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya setiap kali ia ditimpa malapetaka dan bencana.
B. Macam-macam Motivasi
Secara fitrah motivasi dalam diri manusia dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
1. MOTIVASI SPIRITUAL, hal ini terdiri dari keinginan manusia untuk terhindar dari sifat-sifat buruk yang mampu merusak keimanan :
I. Motivasi memelihara diri dari kemusyrikan
II. Motivasi memelihara diri dari kekufuran
III. Motivasi memelihara diri dari kemunafikan
2. MOTIVASI FISIOLOGIS (yang bersifat jasmaniah) yang terdiri dari:
I. Motivasi pemeliharaan diri
II. Motivasi kepada kelangsungan jenis (berkeluarga dan berketurunan)
3. MOTIVASI PSIKOLOGIS yang terdiri dari :
I. Motivasi memiliki
II. Motivasi Agresif (dalam kajian sifat, kata-kata maupun fisik)
C. Ayat-ayat Al-Quran tentang motivasi beragama
QS.Al-Ara’af :172 :
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”,
QS. Ar-Rum : 30
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],[1168] fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
QS. Adz-Dzariyaat: 56 :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
D. Fungsi agama bagi manusia
1) Agama sebagai petunjuk bagi manusia
Kebutuhan manusia terhadap hukum yang bernilai absolut hanya dapat dipenuhi bila ia datang dari yang absolut juga, yaitu hukum yang datang dari tuhan yang maha esa. Yang kemudian disebut agama. Jadi tampak jelas bahwa agama merupakan kebutuhan yang primer bagi manusia itu sendiri dan demi terselenggaranya ketertertiban dan peradapan manusia sebagai suatu kelompok ummat. Maka agama dapat dilihat sebagai hidayah yang diterima manusia dari tuhan, sebab dengan jalan hidayah itulah manusia dapat menemukan nilai-nilai yang dibutuhkan secara fitrawi sebagai sarana dan petunjuk dalam mewujudkan ketertiban dan mengembangkan peradapan dibumi ini.
2) Agama sebagai motivasi perbuatan moral
Iman adalah landasan dan motivasi bagi manusia, ia tidak sekedar mempercayai hukum-hukum tuhan semata, tetapi juga mengamalkan dalam kehidupan yang nyata, kedudukan iman sebagai motivasi perbuatan moral yakni perbuatan yang sesuai dengan tuntunan hukum tuhan adalah dengan melihat kedudukan iman yang berada dilubuk hati manusia.
3) Agama dan kesehatan mental
Agama tampaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama mungkin karena faktor-faktor tertentu baik yang disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan masing-masing. Namun untuk menutupi atau meniadakan sama sekali dorongan dan rasa keagamaan kelihatannya sulit dilakukan, hal ini Karena manusia ternyata memiliki unsur batin yang cenderung mendorongnya untuk tunduk kepada Zat yang gaib, ketundukan ini merupakan bagian dari faktor intern manusia dalam psikologi kepribadian dinamakan pribadi (Self) ataupun hati nurani (conscience of man).
Fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT ialah manusia diciptakan mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka tidak wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanya karena pengaruh lingkungan
D. Tingkatan motivasi
1. Motivasi Hewani, ialah motivasi memebuhi kebutuhan hidup tanpa memperhatikan keadan dari suatu yang diperolehnyadan cara memanfaatkannya, seperti ketika ingin menghilangkan rasa lapar dan haus Ia tidak peduli apakah yang dimakan halal atau haram.
2. Motivasi Insani, ialah motivasi yang terdapat didalam diri manusia yang memiliki akal yang sehat, hati yang bersih, dan indrawi yang tajam, dalam merespon motivasi atau rangsangan selalu menggunakan hati, indrawi dan akal sehat.
3. Motivasi Rabbani, ialah dorongan jiwa yang terdapat dalam diri manusia yang telah mencapai tingkat kesempurnaan diri melalui ketaatannya yang sangat sempurna dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT, motivasi ini adalah dorongan jiwa yang dianugrahkan oleh Allah kepada para nabi, rasul, auliya, sebagai ahli waris dari para nabi-nabi terdahulu.
BAB III
PENUTUP

Motivasi atau dorongan beragama ialah merupakan dorongan psikis yang mempunyai landasan ilmiah dalam watak kejadian manusia. Dalam relung jiwanya manusia merasakan adanya dorongan untuk mencari dan memikirkan sang penciptanya dan pencipta alam semesta, dorongan untuk menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya setiap kali ia ditimpa malapetaka dan bencana.
Macam-macam motivasi ada tiga yaitu : motivasi spiritual yang terdiri dari (motivasi memelihara diri dari kemusyrikan, kekufuran dan kemunafikan), motivasi fisiologis yang terdiri dari (motivasi pemeliharaan diri dan motivasi kepada kelangsungan jenis) dan motivasi psikologis yang terdiri dari (motivasi memiliki, motivasi agresif).
Agama terhadap manusia mempunyai tiga fungsi penting yakni Agama sebagai petunjuk bagi manusia, Agama sebagai motivasi perbuatan moral, Agama dan kesehatan mental, sedangkan tingkatan motivasi itu sendiri ada tiga yaitu motivasi hewani, motivasi insani dan motivasi rabbani.
Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pemakalah guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa pemakalah mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah

Daftar pustaka

Siaksoft, Pengertian Motivasi, http://www.siaksoft.com, diakses tanggal 5 September 2008
WJS.Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta Balai Pustaka, 1985
Faizah, Lalu muhsin effendi, Psikologi Dakwah, Jakarta: Prenada Media, 2006
Hamdani bakran Ad-Dzakiy, Psikologi Kenabian, Yogyakarta, Pustaka Al-Quran, 2005
Suisyanto, Pengantar Filsafat Dakwah, Yogyakarta , Teras, 2006
Jalaludin, Psikologi Agama, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2007

MOTIVASI
(Pengertian dan Aspek-Aspek Motivasi)

BAB I
PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang selalu membutuhkan interaksi dan komunikasi dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain akan dapat mengerti tentang realitas yang ada serta kesehatan mental seseorang dapat diukur dari intensitas komunikasinya.
Dalam berinteraksi manusia akan melakukan singgumgan-singgungan sehingga menghasilkan tekanan-tekanan, sehingga akan dapat dimungkinkan seseorang individu akan merasa tertekan baik tertekan melalui keluarga,lingkungan atau bahkan diri sendiri.
Untuk itu dibutuhkan suatu dorongan untuk individu tersebut baik berupa nasehat, teguran atau pun masukan agar individu yang bersangkutan dapat terlepas dari tekanan yang dirasakan, hal ini dalam bahasa psikologi disebut motivasi.
Dalam makalah ini kami akan mencoba menyampaikan tentang motivasi dalam kajian definisi dan aspek-aspek yang mendukungnya, sesuai dengan literature-literatur yang telah kami baca.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Motivasi
Pengertian motivasi menurut beberapa pakar :
1. Chung dan Meggison, Motivasi merupakan prilaku yang ditujukan kepada sasaran, motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mengejar suatu tujuan. Motivasi berkaitan erat dengan kepuasan pekerja.
2. Stoner & Freeman, Motivasi adalah karakteristik psikologi manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu.
3. Kartini Kartono, Motivasi adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) di sini dimaksudkan: desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup.
Dari defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya defenisi di atas mempunyai pengertian yang sama, yaitu semuanya mengandung unsur dorongan dan keinginan. Dengan demikian maka dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi merupakan dorongan dalam diri seseorang dalam usahanya untuk memenuhi keinginan, maksud dan tujuan.
Ada tiga point penting dalam pengertian motivasi yaitu hubungan antara kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan muncul karena adanya sesuatu yang kurang dirasakan oleh seseorang, baik fisologis maupun psikologis. Dorongan merupakan arahan untuk memenuhi kebituhan tadi, sedangkan tujuan adalah akhir dari satu siklus motivasi (Luthans, 1988:184).
B. Konsep Motivasi Menurut Abraham H. Maslow
Maslow mengatakan bahwa hanya kebutuhan yang belum terpenuhi yang memotivasi perilaku manusia. Teori Maslow ini menekankan pada dua pemikiran pokok :
1. Manusia mempunyai banyak kebutuhan, tetapi kebutuhan-kebutuhan yang belum terpenuhi yang mempengaruhi perilaku manusia
2. Kebutuhan manusia di kelompokkan kedalam hirarki menurut kepentingannya bila suatu kebutuhan dipenuhi maka kebutuhan lainnya lebih tinggi muncul untuk dipuaskan.(siak soft milik anda)
Teori Maslow berpendapat bahwa manusia mempunyai 5 (lima) kebutuhan sosial, meliputi :
1. Kebutuhan fisikologikal seperti sandang, pangan dan papan
2. Kebutuhan keamanan, tidak hanya dalam arti fisik akan tetapi dengan mental psikologikal dan intelektual
3. Kebutuhan sosial, berupa persahabatan dan ketertiban
4. Kebutuhan prestise yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status.
5. Aktualisasi diri dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah jadi kemampuan nyata.
C. Aspek-Aspek Motivasi
Aspek-aspek motivasi adalah :
1. Aspek fisik, meliputi penilaian individu terhadap segala sesuatu yang dimilikinya, seperti tubuh, pakaian, benda miliknya, dan lain sebagainya,
2. Aspek psikis, meliputi pikiran, perasaan, dan sikap yang dimiliki individu terhadap dirinya sendiri,
3. Aspek sosial, meliputi kemampuan dalam berhubungan dengan dunia di luar dirinya, perasaan mampu dan berharga dalam lingkup interaksi sosial dengan orang lain secara umum,
4. Aspek moral, meliputi nilai dan prinsip yang memberi arti serta arah bagi kehidupan seseorang, arti dan nilai moral, hubungan dengan Tuhan, perasaan menjadi orang “baik atau berdosa”, dan kepuasan atau ketidakpuasan terhadap agama yang dianut.
5. Aspek seksual, meliputi pikiran dan perasaan individu terhadap perilaku dan pasangannya dalam hal seksualitas.
6. Aspek keluarga, meliputi arti keberadaan diri di dalam keluarga, hubungan dengan dan dalam keluarga.
7. Aspek diri secara keseluruhan, meliputi pikiran, perasaan, dan sikap yang dimiliki individu terhadap dirinya sendiri.
Kombinasi dari keseluruhan aspek tersebut adalah gambaran mengenai diri seseorang, baik persepsi terhadap diri nyatanya maupun penilaian berdasarkan harapannya

BAB III
PENUTUP
Motivasi mengandung unsur dorongan dan keinginan. Dengan demikian maka dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi merupakan dorongan dalam diri seseorang dalam usahanya untuk memenuhi keinginan, maksud dan tujuan. Ada tiga point penting dalam pengertian motivasi yaitu hubungan antara kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan muncul karena adanya sesuatu yang kurang dirasakan oleh seseorang, baik fisologis maupun psikologis. Dorongan merupakan arahan untuk memenuhi kebituhan tadi, sedangkan tujuan adalah akhir dari satu siklus motivasi.
Menurut maslow manusia memiliki dua kebutuhan pokok dan lima kebutuhan sosial. Aspek-aspek motivasi terdiri dari tujuh aspek yaitu, aspek fisik, psikis, sosial, moral, sosial, keluarga dan aspek dari dalam diri sendiri.
Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pemakalah guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa pemakalah mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah.

DAFTAR PUSTAKA

Siaksoft, diakses tanggal 5 September 2008, Pengertian Motivasi, http://www.siaksoft.com.
Inna-PPNI, diakses tanggal 5 September 2008
,Pengertian Motivasi, http://www.inna-ppni.or.id.
Wikimedia Indonesia, diakses tanggal 5 September 2008 Aspek-aspek motivasi, http://www.wikimedia.co.id.
Jalaluddin Rakhmat, 1996, Psikologi Komunikasi, Bandung, PT. Remaja Rosda Karya.
Psikologi Perkembangan, 1994, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta, Gaja Mada Press

Puasa

Posted on: Mei 29, 2009

PUASA
(Dalam Kajian Al-Hadits dan Al-Quran)

BAB I
PENDAHULUAN

Puasa merupakan salah satu rukun kewajiban yang harus dijalankan bagi seluruh ummat Islam minimal satu tahun sekali pada saat ramadhan, puasa juga salah satu komponen yang terdapat dalam rukun Islam, dimana rukun Islam tersebut merupakan syariat yang penting dalam Islam.
Keberadaan puasa dalam Islam tidak terlepas dari landasan teks yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-Hadits yng mungkin akan pemakalah sebutkan beberapa namun sebelum penyampaian makalah, pemakalah memohon maaf kepada audiens apabila dalam penulisan hadits hanya ditulis artinya saja, hal ini semata-mata karena keterbatasan yang terdapat dalam diri pemakalah untuk itu kami mohon dimaklumi.
Dalam Islam puasa ada beberapa macam, ada puasa wajib, sunnah , makruh dan juga ada juga puasa yang haram, selain itu puasa juga memiliki rukun, syarat wajib dan yang dapat membatalkan puasa itu sendiri berdasarkan pendahuluan diatas dalam makalah ini pemakalah akan berusaha menjelaskan tentang puasa berdasarkan Al-Hadits dan Al-Quran yang pemakalah dapat dari buku-buku referensi kami.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Puasa atau syaum menurut lughawi berarti menahan diri segala sesuatu , hal ini sesuai dengan QS.Al-Baqarah 187:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
187. makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.
Pengertian tekstual Al-Quran ini juga diperkuat oleh beberapa hadits seperti:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (dusta, umpat, futnah dan segenap perkataan yang mendatangkan kemarahan Allah, yang membuat sengketa dan onar)serta tidak meninggalkan pekerjaan-pekerjaan itu maka tidak ada hajat bagi Allah (walaupun)ia meninggalkan makan dan minum.’’(HR. Bukhori)
Pengertian secara syara’ puasa ialah suatu ibadah kepada Allah SWT dengan syarat dan rukun tertentu dengan jalan menahan diri dri makan, minum, hubungan seksual dan perbuatan yang dapat merugikan atau mengurangi makna/nilai dari pada puasa tersebut semenjak terbit fajar sampai terbenam matahari.
B. Macam-macam puasa dan dasar hukum puasa
1. PUASA WAJIB
a. Puasa Ramadan, dengan dasar hukum QS. Al-Baqarah : 185 :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.
Dasar haditsnya ialah :
“Islam ditegakkan atas lima perkara yaitu : bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasululloh, mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa dibulan ramadhan serta berhaji kebaitulloh”(HR. Bukhori, Muslim dan Ahmad)
b. Puasa karena nazar dengan dasar hukum, QS. Maryam : 26 :
فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
26. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya Aku Telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka Aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.
Dasar haditsnya ialah :
“Apabila orang bernazar menjalankan puasa, maka nazar itu harus dipenuhi” (HR. Bukhori)
c. Puasa kifarat atau denda dengan dasar hukum QS. Al-Maidah : 89 :
يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الأيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ
Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari.
d. Puasa Qadla dengan dasar hukum QS. Al-Baqarah : 184 :
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.[114] maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.
Dasar haditsnya ialah :
”Barang siapa meninggal dunia, dan masih ada kewajiban puasa atasnya, maka dipuasakanlah (diqadla) oleh walinya”(HR. Bukhori-Muslim)

2. PUASA YANG HUKUMNYA SUNNAH
a. Puasa 6 hari di bulan Syawal, haditsnya :
“Dari Abu Ayyub, Rasulloh SAW berkata : barang siapa puasa pada bulan ramadhan kemudian ia puasa pula enam hari pada bula syawal adalah seperti puasa sepanjang masa”(HR. Muslim)
b. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah), hadistnya :
“Dari Abu Qatadah : Nabi besar SAW bersabda : Puasa hari arafah itu menghapus dosa dua tahun, satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang”(HR.Muslim)
c. Puasa Senin-Kamis, haditsnya :
“Dari Aisyah : Nabi Muhammad SAW memilih waktu puasa pada hari senin dan hari kamis”(HR. At Tirmidzi)
d. Puasa bulan Sya’ban, haditsnya :
“Kata Aisyah : saya telah melihat rasululloh SAW menyempurnakan puasa satu bulan cukup selain bulan ramdhan, dan saya tidak melihat beliau pada bulan-bulan lain berpuasa lebih banyak pada bulan Sya’ban”(HR. Bukhori Muslim)
e. Puasa tengah bulan (tanggal 13, 14, 15 tiap kalender bulan Qomariah), haditsnya :
“dari Abu Zarr: Rasululloh SAW telah bersabda: hai abu zarr, apabila engkau hendak puasa hanya tiga hari dalam satu bulan hendaklah engkau puasa tanggal 13, 14, dan 15”(HR. Ahmad dan An Nasa’i)
f. Puasa Asyura (pada bulan muharam), haditsnya :
“Dari Abu Qatadah, Rasululloh SAW berkata : Puasa hari asyura itu menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”
3. PUASA YANG HUKUMNYA MAKRUH
Hari yang dimakruhkan untuk berpuasa ialah hari-hari yang mendekati bulan ramadhan (dikarenakan ragu-rahu apakah sudah memasuki ramdhan atau belum) kecuali bagi orang yangsudah terbiasa berpuasa atau berpuasa sepanjang tahun.
4. PUASA YANG HUKUMNYA HARAM
Puasa yang hukumnya haram ialah puasa pada dua hari raya, idul fitri dan idul adha, hari tasyrik, dengan dasar hadits :
“Dari Anas bahwasanya nabi SAW telah melarang berpuasa dalam lima hari dalam setahun yaitu hari raya idul fitri, idul adha dan hari tasyrik”(HR. Ad Daruquthni)
C. Syarat wajib Puasa
1. Beragama Islam
2. Berakal sehat
3. Baligh (sudah cukup umur)
4. Mampu melaksanakannya
5. Orang yang sedang berada di tempat (tidak sedang safar)
Dengan berdasarkan hadits : “Ketetapan hukum tidak diberlakukan atas tiga hal, yaitu orang gila sampai ia sadar kembali (yakni sembih dari kegilaannya)orang yang dalam keadaan tidur sampai ia terjaga dan anak kecil sampai ia baligh”(HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)
D. Syarat Syah Puasa
1. Islam
2. Mumasyiz
3. Suci dari darah haid
4. Dikerjakan pada waktu yang diperbolehkan untuk puasa.
E. Rukun Puasa
1. Niat, berdasarkan hadits : “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung kepada niat dan setiap manusia hanya memperoleh menurut apa yang diniatkannya”(HR. Bukhori)
2. Meninggalkan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
F. Hal-hal yang membatalkan puasa
1. Masuknya sesuatu kedalam perut (makan-minum, dll) secara sengaja.
2. Muntah secara disengaja, berdasarkan hadits : “dari Abu Hurairah telah bersabda rasululloh SAW barang siapa terpaksa muntah tidaklah wajib mengqadha puasanya dan barang siapa yang mengusahakan muntah dengan sengaja maka hendaklah dia mengqadla puasanya”
3. Bersenggama diwaktu siang (wajib membayar puasa kifarat).
4. Masturbasi (mengeluarkan sperma secara disengaja).
5. Nifas, Haid, dengan dasar hadits : “dari Aisyah pada masa rasululloh SAW kami (yakni kaum wanita)yang mengalami haid diperintahkan agar mengqadla puasa tetapi tidak mengqadla shalat”(HR. Bukhori-Muslim)
6. Gila
7. Murtad.
F. Kelonggaran tidak berpuasa, berlaku untuk :
1. Perempuan yang hamil dan menyusui
2. Orang yang sakit
3. Orang yang bepergian
4. Orang yang lanjut usia, hal ini berdasarkan Al-Quran surat Al-Baqarah 184-185 :
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.
185. (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. [114] maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.
G. Beberapa hal yang tidak terlarang dalam Puasa
1. Mandi Ketika berpuasa
2. Menggunakan celak dan obat tetes mata atau tetes hidung
3. Suntikan untuk obat
4. Berkumur-kumur dan memasukkan air kehidung sebelum waktu dhuhur
5. Menelan luidah, debu jalanan, angin, dll
6. Makan, minum dan bersenggama sampai sebelum imsyak
7. Memulai berpuasa dalam keadaan junub (namun disunnahkan segera bersuci atau mandi besar)
8. Mencium istri saat berpuasa.

BAB III
PENUTUP

Pengertian secara syara’ puasa ialah suatu ibadah kepada Allah SWT dengan syarat dan rukun tertentu dengan jalan menahan diri dri makan, minum, hubungan seksual dan perbuatan yang dapat merugikan atau mengurangi makna/nilai dari pada puasa tersebut semenjak terbit fajar sampai terbenam matahari, puasa memiliki empat macam yaitu puasa wajib, sunnah makruh dan puasa yang haram, puasa wajib diantaranya Puasa Ramadhan, Puasa karena nazar, Puasa kifarat, Puasa Qadla, puasa sunnah diantaranya Puasa 6 hari di bulan Syawal, Puasa Arafah (9 Dzulhijjah), Puasa Senin-Kamis, Puasa bulan Sya’ban, Puasa tengah bulan (tanggal 13, 14, 15 tiap kalender bulan Qomariah), Puasa Asyura (pada bulan muharam), puasa yang makruh ialah puasa yang mendekati bulan ramadhan dimana akan terjadi keragu-raguan apakah sudah memasuki ramadha atau belum tapi terkecuali bagi orang yang sudah terbiasa puasa atau telah puasa sepanjang tahun sedangkan puasa yang haram ialah puasa pada dua hari raya dan pada hari tasyrik.
Seperti kewajiban-kewajiban yang lain puasa juga memiliki syarat wajib, syarat syah dan rukun puasa, serta juga terdapat hal-hal yang dapat membatalkan puasa itu sendiri.
Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pemakalah guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa pemakalah mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah.

Daftar Pustaka
Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2000)
Zaskia Drajat, dkk, Ilmu Fiqh, (Yogyakarta : Dana Bhakti Wakaf, 1995)
Abdul Fatah Idris dan Abu Ahmadi, Fiqh Islam Lengkap, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999)
Muhammad Bagir Al-Habsyi, Fiqh Praktis, (Bandung : Mizan, 1999)

Hukum Islam Berkembang di Amerika Serikat

01 Apr 2009 | 0 Komentar | Berita & Artikel

WASHINGTON–Seiring berkembangnya jumlah pemeluk Islam di Amerika Serikat (AS), pengaruh dan penerapan hukum Islam atau syariat dalam kehidupan di negeri Paman Sam juga meningkat.

“Hukum syariat adalah kewajiban seluruh umat Muslim,” ungkap Abdullahi an-Na’im, seorang guru besar hukum pada Emory University di Atlanta, seperti diberitakan Fox News, Senin (30/3). Menurut dia, syariat yang dipegang teguh umat Islam juga dimiliki umat agama lain. Pemeluk Yahudi memiliki Hukum Talmudic dan Katholik memiliki Canon Law.
Menurut an-Na’im, hukum Islam merupakan aturan berperilaku dan bertindak bagi seluruh kaum Muslim. An-Na’im menuturkan, penerapan hukum Islam yang dilakukan setiap umat Muslim di AS dalam kehidupan sehari-hari bukanlah ancaman bagi Amerika. Kekhawatiran itu sempat dilontarkan Frank Gaffney, pendiri dan presiden Center for Security Policy–sebuah tangki pemikir di Washington.
Gaffney sempat memprediksi AS akan menghadapi masalah yang seperti dihadapi negara-negara Eropa. Kata dia, di Eropa nilai-nilai agama yang dianut Muslim imigran kerapkali berbenturan dengan budaya asli yang sekuler. Namun, kekhawatiran itu ditepis Prof an-Na’im. Menurut an-Na’im, hal seperti itu tak akan terjadi di negeri adidaya.
“Sekulerisme masyarakat Amerika yang beragama terbukti lebih menerima peran publik untuk beragama. Selain itu, terbukti pula Amerika lebih kondusif bagi Muslim. Sebagai warga negara, umat Muslim merasa nyaman hidup dengan nilai-nilai agama dan kewarganegaraannya dibandingkan negara-negara Eropa,” papar an-Na’im.
Sebagai Muslim, kata dia, setiap umat Islam di AS perlu memegang teguh syariat dalam kehidupan sehari-hari. ”Namun, sebagai warga negara, saya adalah warga negara Amerika Serikat,” kata an-Na’im menegaskan. ”Saya berutang kesetiaan kepada Amerika dan konstitusi negara ini.” Menurut dia, menjalankan nilai-nila agama dalam perilaku diri tak bertentangan dengan konstitusi dan kesetiaan terhadap Amerika.
Perlahan namun pasti, penerapan syariat mulai berkembang di negeri Paman Sam. Pada 2006 lalu, sopir taksi Muslim telah mulai menolak penumpang yang membawa minuman keras. Seperti, diberitakan Fox News, tahun lalu, Tyson Foods, sebuah pabrik in Shelbyville, Tennessee, mengganti hari libur buruh dengan libur Idul Fitri bagi pekerja Muslim yang kebanyakan adalah imigran asal Somalia.
Tahun 2007, University of Michigan membangun tempat wudhu bagi para mahasiswa Muslim. Sacramento News juga melaporkan, dengan menerapkan hukum syariat, umat Muslim di negara itu terhindar dari resesi ekonomi. Menurut Sacramento News, Muslim AS tak menjadi korban krisis global karena menghindari segala bentuk riba.
“Jika semua orang menerapkan syariat, tak akan ada resesi,” tutur Farouk Fakira, seorang imigran asal Yaman yang menjadi moderator sebuah diskusi keuangan Islam di Masjid Annur, Sacramento, akhir pekan lalu.
Fakira (57), seperti Muslim lokal lainnya menyewa sebuah rumah. Ia berupaya untuk menghindari ‘bunga’ yang hukumnya haram. Menurut Imam Muhammed Abdul Azeez, pemimpin Sacramento Area League of Associated Muslims (SALAM), syariat telah diperkenalkan sejak 1.400 tahun lalu oleh Rasulullah SAW.
Sekitar 20 persen dari 50 ribu Muslim di Sacramento telah menerapkan ekonomi syariah yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Sumber : www. mohammadihsan.com

KONFLIK DALAM KELOMPOK DAN ALTERNATIF SOLUSI
1. Studi Kasus
Dalam sebuah team diskusi kelompok beranggotakan 3 orang, anggota kelompok menyusun jadwal pertemuan rutin kelompok setiap kamis pagi pukul 08.00 WIB karena dirasa waktu tersebut sudah sesuai dan tidak berbenturan dengan jadwal anggota satu sama lain namun pada praktiknya, saat hari kamis pagi salah satu anggota kelompok meminta ijin untuk tidak bisa datang berdiskusi, sehingga rencana diskusi pada hari tersebut batal, ini konflik pertama, setelah dikonfirmasi lagi saat ketemuan langsung dengan anggota yang tidak masuk tersebut kenapa membatalkan ketidak hadiran diskusi secara mendadak, jawabannya ialah untuk mengerjakan tugas mata kuliah yang akan dikuliahkan pada hari kamis pukul 15.00 WIB hari itu juga, meski sebenarnya tugas tersebut sudah diberikan sejak satu minggu sebelum hari perjanjian diskusi oleh dosen pengampu mata kuliah yang bersangkutan, disini muncul konflik kedua, karena salah satu anggota team lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan kelompok.
2. Alternatif Solusi
Mempertemukan semua anggota team diskusi saat suasana sudah netral, konflik dalam tiap-tiap anggota karena ketidaknyaman sudah mereda, kemudian mengajak berdiskusi tentang tujuan pembentukan kelompok diskusi ini, perjanjian-perjanjian atau komitmen-komitmen bersama sebelum team ini terbentuk, kemudian penekanan pokok pembahasan bahwa setelah memahami kembali tentang tujuan, perjanjian atau komitmen tersebut hendaknnya tiap anggota mampu mengkesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan kelompok selagi kepentingan pribadi tersebut bisa dicancel atau diminimalisir, suasana diskusi penyeesaian konflik ini harus cair, care, terbuka, dialog bukan monolog, tidak memojokkan atau mendiskriminasikan salah satu anggota yang dianggap bersalah. Solusi ini ialah termasuk dalam win in solution.

komentar utk tulisan ku dong…

fuadhasyim di periode khalifah
Abdul Cholik di periode khalifah
dedekusn di Puasa
dedekusn di karya ilmiah 2

Hasil Karya Mr.Foe

Kumpulan Karya Mr. Foe