Fuadhasyim’s Blog

kajian kepribadian

Posted on: Mei 29, 2009

POLA-POLA KEPRIBADIAN MANUSIA
(Kajian kepribadian dalam Al-Qur’an)

BAB I
PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan secara sempurna dengan dibekali akal dan nafsu serta qolbu sebagai sesosok khalifah dimuka bumi ini, karenanya dengan semua bekal tersebut manusia ada kalanya ketika akal fikirannya unggul maka kedudukan manusia akan berada diatas malaikat Allah namun ketika hawa nafsunya yang menjadi raja atas diri manusia kedudukannya tidak lebih dari dibawah hewan.
Diantara akal dan nafsu manusia yang saling bertentangan manusia juga dibekali qolbu sebagai penyeimbang, sehingga baik buruknya qolbu manusia bisa ditentukan oleh perilaku manusia, dari setiap perilaku yang dikerjakan manusia setiap hari akan mengahsilkan suatu bentuk kepribadian, dalam kepribadian tersebutlah ciri khas dari manusia akan terlihat.
Dalam Al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT kurang lebih 14 abad yang lalu kepada nabi Muhammad SAW dalam lembaran ayat-ayatnya telah menjelaskan kepada manusai berbagai macam kepribadian yang tedapat dalam diri manusia, kepribadian tersenit dapat diklasifikasikan dalam tiga posisi, yaitu kepribadian yang baik atau khasanah, kepribadian yang buruk atau dholalah serta yang terakhir kepribadian yang ada ditengah-tengahnya atau yeng lebih sering kita kenal dengan kepribadian munafik, dalam makalah ini pemakalah akan berusaha menyajikan sedikit tentang bentuk-bentuk kepribadian manusia yang telah ada dan dijelaskan oleh Al-Quran

BAB II
PEMBAHASAN

1. Al-Mu’minun ayat 1-6
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَالَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

A. Mufradat :
Aflaha : Membelah, maksudnya kata membelah pada mufradat ini seperti ketika petani membelah tanah untuk ditanami tanaman, benih yang ditanamkan petani akan menumbuhkan buah yang diharapkan.
Sholatihim : Menishbahkan, maksutnya kata nishbah ini adalah mengarahkan sholat kepada pelaku yang menjalani sholat agar memperoleh manfaat dari sholatnya.
Khosyi’un : Diam dan tunduk, maksudnya kata diam dan tunduk adalah memusatkan konsentrasi pada satu titik yaitu beribadah kepada Allah melalui sholat
Al-Laghw : Batal, maksudnya adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada atau ditiadakan dalam beribadah, sesuatu hal ini adalah apabila dikerjakan akan dapat mengurangi esnsi daro ibadah tersebut, seperti berbicara saat khotbah jumat meskipun itu hanya kata “Diam!”.
Zakah : Suci dan berkembang, maksudnya Zakah disini adalah Zakat
Atu’ : Untuk menunjukkan pengeluaran zakat, dimaksudkan kepada muzaki.
Hafidzhun : Memelihara atau menahan, maksut kata ini adalah memilihara kemaluan agar menjaga dari perbuatan-perbuatan maksiat
Farj : Segala yang buruk diucapkan kepada pria atau wanita, maksutnya lebih mengarah kepada alat kelamin
B. Tafsir :
Surat Al-Mu’minun Ayat 1-6 menjelaskan kepada kita tentang salah satu pola kepribadian manusia dalam Al-Qur’an yaitu Mukmin beserta ciri-cirinya, pada Ayat 1-4 disebutkan ciri seorang mukmin, Sesungguhnya telah pasti beruntunglah mendapat apa yang didambakannya sebagai orang-orang mukmin, yang mantap imannya dan mereka buktikan kebenarannya dengan amal-amal sholeh yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya, Khusyu’ disini ialah tenang, rendah hati, berserah diri lahir dan batin serta perhatiannya terarah kepada shalat yang sedang mereka kerjakan sehingga mereka memperoleh kebahagiaan atas sholatnya. Dimaksud dengan kebahagiaan disini adalah orang-orang yang tidak acuh yakni tidak memberi perhatian atau menjauhkan diri secara lahir dan batin dari hal-hal tersebut.
Mukmin menurut awal surat Al-Mu’minun adalah orang-orang yang membayar zakat yakni menyisihkan sebagian harta bendanya yang sebenarnya milik orang lain atau penyucian jiwa atas mereka yang melakukannya dengan sempurna dan tulus. Sedangkan pada ayat 5-6 menyebutkan penyucian diri manusia dan hal yang pertama disucikan adalah alat kelamin, karena perzinahan adalah puncak kerusakan moral manusia. Pada ayat tersebut menjelaskan tentang konsep orang mu’min yang memperoleh kebahagiaan adalah mereka yang selalu menjaga menyangkut kemaluan mereka (pemelihara-pemelihara) yakni tidak menyalurkan kebutuhan biologisnya melalui hal dan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh agama.
C. Asbabun Nuzul
Imam Hakim telah menyampaikan sebuah hadits melalui sahabat Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah saw. “Bilamana melakukan shalat, selalu mengangkat pandangan kelangit”. Maka turunlah ayat ini: yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya (QS. Al-Mu’minun: 2), maka sejak saat itu Rasulullah saw. Menundukkan kepalanya jika sedang mengerjakan shalat. Hadits ini disampaikan pula oleh Ibnu Murdawaih, hanya lafaznya mengatakan, bahwa Rasulullah saw “menolehkan pandangannya, sedang ia dalam shalat”. Disampaikan pula oleh Sa’id Ibnu Mansyur melalui Ibnu Sirin secara mursal, yaitu dengan lafadz yang mengatakan: “bahwasannya Rasulullah saw, membolak-balikkan pandangan matanya dalam shalat”, maka turunlah ayat ini.
D. Keterangan
Dalam surat Al-Mukminun diterangkan salah satu bentuk kepribadian manusia adalah kepribadian seorang mukmin yang melakukan sholat secara khusyu’, tidak mengerjakan Laghw atau hal-hal yang mampu membatalkan suatu amalan, membayar zakat dan menjaga kemaluan kecuali kepada istri atau budak-budaknya.
Pengertian Mukmin dalam salah satu referensi berarti mereka yang beriman atau percaya kepada yang gaib (Allah, malaikat dan Ruh), menunaikan sholat menafkahkan rezekinya kepada fakir miskin, yatim, beriman pada kitab Allah serta beriman pada hari akhir, tipe ini digolongkan kepada tipe orang yang beruntung karena telah mendapat petunjuk, kalimat definisi mukmin diatas diambil dari salah satu hadits nabi yang diriwayatkan oleh muslim.
2. Al-Baqarah ayat 13-15
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لا يَعْلَمُونَ وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

A. Mufradat:
An-nas berarti manusia, maksud kata manusia ini adalah orang yang berucapa dan dipahami oleh yang dia ajak berbicara, ucapan yang diucapkan adalah mengajak kepada kebenaran dan beriman kepda Allah.
Laqu berarti perjumpaan yang bersifat kebetulan, maksud dari kata ini adalah orang yang ucapan dan hatinya sesuai (Bukan orang yang munafik)
Yastahzi’u berarti memperolok-olok, kata ini mengarah kepada perilaku kaum munafikin yang mudah dan ringan dalam menghina dan mengolok-olok sesuatu.

B. Tafsir
Tafsir pada ayat 13 menekankan bahwa beriman yang benar yaitu semua yang diucapkan harus sesuai dengan yang ada dalam hatinya sebagaimana keimanan manusia yang sempurna, indikator kesempurnaan disini adalah menyadari sebagai makhluk Allah yang mesti tunduk dan patuh kepada-NYA. Namun yang terjadi pada orang munafik adalah mereka mengaku meyakini beriman kepada Allah tapi disisi lain mereka berkhianat dan memusuhi orang-orang yang beriman.
Pada ayat 14-15 menekankan kepada penjelasan pada sifat dasar orang munafik yang bermuka dua, apabila ia bertemu dengan orang yang beriman ia mengaku beriman tetapi apabila ia bertemu dengan orang kafir ia juga mengaku kafir.

C. Asbabun Nuzul
Allah berfirman: “dan jika mereka mereka menemui orang-orang beriman” (QS. Al-baqarah:14), diketengahkan oleh Al Wahidi dan Tsa’labi, dari jalu Muhammad bin Marwan dan Assdiyush Shaghir, dari al Kalbiy, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, katanya: ayat ini turun mengenai Abdullah bin Ubai dan teman-temannya. Cerita bahwa pada suatu hari mereka keluar lalu ditemui oleh segolongan sahabat Rasulullah saw, maka kata Abdullah bin Ubai: “lihatlah, bagaimana orang-orang itu kuusir dari kalian!” lalu ia maju kemuka dan menjabat tangan Abu Bakar seraya berkata: “selamat untuk Shiddiq penghulu bani Tamim dan sesepuh agama islam, pendamping Rasulullah di dalam gua dan telah membaktikan raga dan hartanya untuk Rasulullah” kemudian dijabatnya pula tangannya Umar seraya berkata: “selamat untuk penghulu bani Adi bin Kaab, faruq yang perkasa (Umar) dalam agama Allah dan telah menyerahkan raga dan hartanya untuk Rasulullah.” Setelah itu disambutnya tangan Ali seraya berkata: “selamat untuk saudara sepupu dan menantu Rasulullah, penghulu bani Hasyim selain Rasulullah.” Kemudian mereka berpisah, maka kata Abdullah kepada anak buahnya: “Bagaimana pendapat kalian tentang perbuatan saya tadi? Nah jika kalian menemui mereka, lakukanlah seperti yang saya lakukan itu!” mereka memuji perbuatannya itu, sementara kaum muslilmin kembali kepada Nabi saw. Dan menceritakan peristiwa tersebut maka turunlah ayat ini.

D. Keterangan :
Surat Al-Baqarah ayat 13-15 menjelaskan tentang ciri kepribadian manusia yang tidak mempunyai pendirian, selalu berubah-ubah menurut kemauan, situasi kondisi yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, kepribadian tersebut lebih kenal dengan kepribadian fasiq dengan orang yang melakukan kepribadian tersebut disebut orang yang munafik.
Munafik yaitu mereka yang beriman kepada Allah. Dan hari akhir tetapi keimanannnya hanya dimulut saja, sementara hatinya ingkar. Mereka ingin menipu Allah dan orang mu’min walaupun sebenarnya ia menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar. Hati mereka berpenyakit, dan semakin parah penyakitnya karena membuat kerusakan, menambah kebodohan, persekutu dengan setan untuk mengolok-olok orang mu’min. mereka tidak mendapat penerangan dan petunjuk, sehingga senantiasa dalam kegelapan.

3. Al-Baqarah: 27-28
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَكَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

A. Tafsir:
Tafsir pada ayat 27 menjelaskan tentang sifat-sifat orang fasik yaitu ada perjanjian antara manusia dengan Allah yakni bahwa mereka mengakui keEsaan Allah, serta ketundukan mereka kepada-Nya. Mereka adalah orang-orang yang mengurai yaitu membatalkan dan melanggar perjanjian mereka dengan Allah pada perjanjian itu sudah demikian kukuh mereka mengurainya sesudah perjanjian diikat teguh dengan diutusnya para nabi dan rasul dengan bukti-bukti keEsaannya.
Tafsir pada ayat 28 mengingatkan pada orang kafir bahwa sesungguhnya dulu mereka adalah orang yang mati (orang yang tidak ada di dunia) kemudian dihidupkan dan kemudian kembali kepada-Nya.
B. Asbabun Nuzul
Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari As Saddiy dengan sanad-sanadnya, tatkala Allah membuat dua buah perumpamaan ini bagi orang-orang munafik yakni firmannya: “perumpamaannya mereka adalah seperti orang yang menyalakan api” dan firmannya: “atau seperti hujan lebat dari langit”, orang-orang munafik mengatakan, bahwa Allah lebih tinggi dan lebih agung sampai membuat perumpamaan-perumpamaan ini. Maka Allah menurunkan: “Sesungguhnya Allah tidak merasa malu untuk membuat tamsil perumpamaan.” Sampai dengan firman-Nya “merekalah orang-orang yang merugi” (QS. Al-Baqarah:26-27).
C. Keterangan :
Bagian terakhir dari tiga rangkaian ayat yang menjelaskan tentang kepribadian manusia menjelaskan tentang kepribadian kafir, namun pada awal ayat pada bagian ini lebih dulu menjelaskan tentang sifat orang fasiq yang suka melanggar perjanjian serta bermuka dua, kemudian menjelaskan tentang ancaman kepada orang-orang kafir agar mereka (orang kafir) mau berpikir bahwa sesungguhnya mereka tidak berdaya dihadapan Allah SWT.
Pengertian Kafir adalah mereka yang ingkar terhadap hal-hal yang harus dipercayai sebagai seorang mu’min, tipe seperti ini digambarkan sebagai tipe yang sesat, karena terkunci hati, pendengaran dan penglihatannya dalam masalah kebenaran. Siksa Allah yang pedih tentu menjadi bagian dari kehidupan akhirnya.

BAB III
PENUTUP

Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan secara sempurna dengan dibekali akal dan nafsu serta qolbu sebagai sesosok khalifah dimuka bumi ini, Diantara akal dan nafsu manusia yang saling bertentangan manusia juga dibekali qolbu sebagai penyeimbang, sehingga baik buruknya qolbu manusia bisa ditentukan oleh perilaku manusia, dari setiap perilaku yang dikerjakan manusia setiap hari akan mengahsilkan suatu bentuk kepribadian, dalam kepribadian tersebutlah ciri khas dari manusia akan terlihat.
Pada ayat yang disajikan pada makalah ini mencangkup surat Al-Mukminun Ayat 1-6, surat Al-Baqarah ayat 13-15 serta ayat 27-28 menjelaskan tentang kepribadian yang ada dalam diri manusia, kepribadian tersebut adalah kepribadian seorang mukmin, kepribadian seorang munafik serta keribadian seorang yang kafir, setiap kepribadian tersebut memiliki karekteristik seperti yang telah dijelaskan diatas.
Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pemakalah guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa pemakalah mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah

Daftar Pustaka
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 1 dan 9, Ciputat : Lentera Hati, 2000
Imam jalalud-Din Al-Mahally, Imam jalalud-Din Al-Suyuthi, Tafsir Jalalain berikut Asbabun Nuzul, Bandung : Sinar Baru, 1990
Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, Jakarta: raja Grafindo Persada, 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

komentar utk tulisan ku dong…

fuadhasyim di periode khalifah
Abdul Cholik di periode khalifah
dedekusn di Puasa
dedekusn di karya ilmiah 2

Hasil Karya Mr.Foe

Kumpulan Karya Mr. Foe

%d blogger menyukai ini: