Fuadhasyim’s Blog

konseling lintas agam dan budaya

Posted on: Mei 29, 2009

KONSEP-KONSEP KONSELING
LINTAS AGAMA DAN BUDAYA

ABSTRAKSI
Manusia sebagai makhluk sosial (Zoon Politicon) dalam hidup sehari-hari tidak lepas dari unsur agama dan budaya karena Sifat hakiki manusia adalah makhluk beragama (homo religious), selain itu manusia juga lahir sebagai manusia yang berbudaya namun dalam proses berjalannya akan muncul permasalahan yang timbul dalam beragama serta berbudaya, untuk itulah dibutuhkan proses konseling lintas agama dan budaya.
Konseling lintas agama dan budaya terdiri dari tiga elemen penting, yaitu konseling, agama dan budaya, sehingga dalam penjelasannya tentang konsep konseling lintas agama dan budaya akan diawali dengan penjelasan tentang konseling, agama dan budaya. Dari penjelasan setiap poin tersebut maka akan dapat diambil kesimpulan tentang pengertian Konseling lintas agama adalah suatu proses konseling dimana ada dua keyakinan atau lebih, yang berbeda dari latar belakang ajaran, aturan-aturan, maupun kepercayaan. Sedangkan pengertian Konseling lintas budaya adalah suatu hubungan konseling dimana ada dua peserta atau lebih, berbeda dalam latar belakang budaya, nilai-nilai, dan gaya hidup.
Aspek-aspek yang harus ada dan diperhatikan dalam konseling lintas agama dan budaya : 1. Latar belakang agama dan budaya yang dimiliki oleh konselor, 2. Latar belakang agama dan budaya yang dimiliki oleh klien, 3. Asumsi-asumsi terhadap masalah yang dihadapi selama konseling, 4. Nilai-nilai yang mempengaruhi hubungan dalam konseling. Berdasarkan aspek-aspek ini akan lahir konsep sehingga konsep konseling lintas agama terdiri dari lima hal, yaitu : 1. Konselor lintas agama dan budaya harus sadar akan nilai dan norma, 2. Konselor sebaiknya sadar terhadap karakteristik konseling secara umum, 3. Konselor harus mengetahui pengaruh kesukuan, keagamaan dan mereka harus mempunyai perhatian terhadap lingkungan serta agamanya, 4. Konselor tidak boleh mendorong klien untuk dapat memahami agama dan budaya yang dianutnya, 5. Konselor lintas agama dan budaya dalam melaksanakan konseling harus mempergunakan pendekatan ekletik
BAB I
PENDAHULUAN
Sifat hakiki manusia adalah makhluk beragama (homo religious), yaitu makhluk yang mempunyai fitrah untuk memahami dan menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, serta sekaligus menjadikan kebenaran agama itu sebagai referensi sikap dan perilakunya. Di sisi lain manusia juga lahir sebagai manusia yang berbudaya. Dalam kehidupan sehari-hari, tiap individu akan berusaha menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Hal ini ditunjukkan dengan memberikan pendapat dan perilaku tertentu, bagaimana bersikap dan mungkin menunjukkan beberapa “keanehan” tertentu. Akulturasi diri ini bisa jadi berbeda dengan apa yang selama ini dianut oleh masyarakat sekitarnya, tetapi seringkali pula seorang individu menampakkan perilaku sesuai dengan apa yang sering dimunculkan oleh masyarakat di mana dia berada. Agama dan budaya mempunyai independensi masing-masing, meski keduanya saling terkait. Kelahiran agama sangat terkait dengan konstruksi budaya
Namun dalam memahami realita kehidupan, ada kalanya terjadi kesenjangan antara agama dan budaya. Manusia sering dihadapkan oleh realitas yang mereka anggap sebagai suatu permasalahan yang tak mampu diselesaikan dengan sendirinya. Sehingga konselor adalah sasaran yang “empuk” bagi manusia untuk dijadikan referensi dalam membantu memecahkan permasalahannya.
Permasalahan-permasalahan individu akan dapat diselesaikan manakala ada suatu konsep yang jelas dalam suatu proses konseling. Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah konsep konseling lintas agama dan budaya? Makalah ini akan mencoba menguraikannya lebih lanjut.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Konseling Lintas Agama dan Budaya
Dalam mendefinisikan tentang konseling lintas agama dan budaya, terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang pengertian konseling, agama dan budaya.
1. Konseling
Definisi konseling sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu konseling, perbedaan pandangan ahli, serta teori yang dianutnya. Sehingga sangat sulit untuk dapat mendefinisikan konseling secara komprehensif. Namun hal itu bukan berarti bahwa konseling tidak dapat didefinisikan. Beberapa definisi konseling antara lain:
a. Robinson (M.Surya dan Rochman N., 1986:25) mengartikan konseling adalah “semua bentuk hubungan antara dua orang, dimana yang seorang yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya”.
b. ASCA (American Scholl Counselor Association), mengemukakan bahwa “konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu kliennya mengatasi masalah-masalah”.
c. Rogers (1942) konseling adalah suatu hubungan yang bebas dan berstruktur yang membiarkan klien memperoleh pengertian sendiri dalam membimbingnya untuk menentukan langkah-langkah positif kearah orientasi baru.
d. Smith (1955) : Suatu proses yang terjadi dalam hubungan pribadi antara seseorang yang mengalami kesulitan dengan seorang yang professional, latihan dan pengalamannya mungkin dapat dipergunakan untuk membantu orang lain agar mampu memecahkan persoalan pribadinya.
Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa konseling memiliki elemen-elemen antara lain:
1. Adanya hubungan
2. Adanya dua individu atau lebih
3. Adanya proses
4. Membantu individu dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan.
2. Agama
Agama sebagai bentuk keyakinan, memang sulit diukur secara tepat dan rinci. Hal ini pula barangkali yang menyulitkan para ahli untuk memberikan definisi yang tepat tentang agama. Harun Nasution merunut pengertian agama berdasarkan asal kata, yaitu al-Din, religi (relegere). Al-Din (Semit) berarti undang-undang atau hukum. Kemudian dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Sedangkan dari kata religi (Latin) atau religera berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Adapun kata agama terdiri dari a = tidak, gam = pergi mengandung arti tidak pergi, tetap ditempat atau diwarisi turun temurun. Namun setidaknya ada komponen atau unsur-unsur yang menjadi indikator untuk memahami agama sebagaimana yang dielaborasi oleh Joachim Wach (1963) yaitu: (a)Thought yaitu pemikiran yang mengandung makna semua yang dapat dipikirkan untuk diyakini, (b)Ritual yaitu ajaran tentang tata cara pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk peribadatan, dan (c) Fellowship yaitu pengikut, penganut atau pemeluk.
Secara terminologi agama adalah sebuah system keyakinan yang melibatkan emosi-emosi, rasa dan pemikiran-pemikiran atau rasio yang sifatnya pribadi dan diwujudkan dalam tindakan-tindakan keagamaan yang sifatnya individual, kelompok, serta sosial. Didalamnya melibatkan sebagian atau seluruh masyarakat. Agama merupakan bagian dari hidup manusia yang sangat penting. Karena manusia adalah makhluk yang beragama (homo religious), alam semesta menjadi objek pemikiran manusia (antropologi, teologi, dan kosmologi). Agama telah menimbulkan khayalannya yang paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempuna dan juga perasaan takut dan ngeri.
3. Budaya
Pengertian budaya adalah keseluruhan system, gagasan, tindakan, dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan cara belajar. budaya diperoleh melalui proses belajar. Tindakan-tindakan yang dipelajari diantaranya, cara makan, minum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang, berelasi dalam masyarakat adalah budaya. Definisi-definisi psikologis, menekankan aneka pencirian psikologis, temasuk pengertian-pengertian seperti penyesuaian (adjustment), pemecahan masalah, belajar dan kebiasaan.
Ratner (2000), salah seorang pakar psikologi budaya menyusun bagaimana seharusnya sebuah konsep budaya. Ia memproposisikan empat buah prasyarat bagi sebuah konsep budaya yang baik, yaitu:
• Mendefinisikan sebab musabab dari fenomena budaya.
• Mengidentifikasi subkategori dari fenomena-fenomena budaya
• Mengidentifikasi bagaimana fenomena-fenomena itu saling berhubungan
• Menerangkan hubungan budaya dengan fenomena lain, seperti biologi dan ekologi.
Dalam pengertian budaya terdapat tiga elemen penting yaitu :
1. Merupakan produk budidaya manusia
2. Menentukan ciri seseorang
3. Manusia tidak akan dapat dipisahkan dari budaya
Dari uraian di atas dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Konseling lintas agama adalah suatu proses konseling dimana ada dua keyakinan atau lebih, yang berbeda dari latar belakang ajaran, aturan-aturan, maupun kepercayaan.
2. Konseling lintas budaya adalah suatu hubungan konseling dimana ada dua peserta atau lebih, berbeda dalam latar belakang budaya, nilai-nilai, dan gaya hidup (Sue et al dalam Suzette et all 1991; Atkinson, dalam Herr; 1939).
B. Konsep Konseling Lintas Agama dan Budaya
Berdasarkan pengertian tentang konseling lintas agama dan budaya di atas, aspek-aspek yang harus ada dan diperhatikan dalam konseling lintas agama dan budaya adalah sebagai berikut:
1. Latar belakang agama dan budaya yang dimiliki oleh konselor
2. Latar belakang agama dan budaya yang dimiliki oleh klien
3. Asumsi-asumsi terhadap masalah yang dihadapi selama konseling
4. Nilai-nilai yang mempengaruhi hubungan dalam konseling
Dalam melaksanakan suatu proses konseling, hendaklah seorang konselor memperhatikan konsep-konsep konseling sebagai berikut:
1. Konselor lintas agama dan budaya harus sadar akan nilai dan norma
Di dalam proses konseling, konselor harus sadar bahwa dia memiliki nilai dan norma yang harus dijunjung tinggi. Konselor harus sadar bahwa nilai dan norma yang dimilikinya itu akan terus dijunjung dan dipertahankannya. Di sisi lain, konselor harus menyadari bahwa klien yang akan dihadapinya adalah mereka yang mempunyai nilai-nilai dan norma yang berbeda dengan dirinya.
2. Konselor sadar terhadap karakteristik konseling secara umum.
Konselor di dalam melaksanakan konseling sebaiknya sadar terhadap pengertian dan kaidah dalam melaksanakan konseling. Hal ini sangat perlu karena pengertian terhdap kaidah konseling akan membantu konselor dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh klien.
3. Konselor harus mengetahui pengaruh kesukuan, keagamaan dan mereka harus mempunyai perhatian terhadap lingkungan serta agamanya.
Konselor dalam melaksanakan tugasnya harus tanggap terhadap perbedaan yang berpotensi untuk menghambat proses konseling. Terutama yang berkaitan dengan nilai, norma dan keyakinan yang dimiliki oleh suku agama tertentu. Terelebih apabila konselor melakukan praktik konseling di Indonesia yang mempunyai lebih dari 357 etnis dan 5 agama besar serta penganut aliran kepercayaan.
Untuk mencegah timbulnya hambatan tersebut, maka konselor harus mau belajar dan memperhatikan lingkungan di mana dia melakukan praktik, baik agama maupun budayanya. Dengan mengadakan perhatian atau observasi, diharapkan konselor dapat mencegah terjadinya rintangan selama proses konseling.
4. Konselor tidak boleh mendorong klien untuk dapat memahami agama dan budaya yang dianutnya.
Untuk hal ini ada aturan main yang harus ditaati oleh setiap konselor. Konselor mempunyai kode etik konseling, yang secara tegas menyatakan bahwa konselor tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada klien. Hal ini mengimplikasikan bahwa sekecil apapun kemauan konselor tidak boleh dipaksakan kepada klien. Klien tidak boleh diintervensi oleh konselor tanpa persetujuan klien.
5. Konselor lintas agama dan budaya dalam melaksanakan konseling harus mempergunakan pendekatan ekletik.
Pendekatan ekletik adalah suatu pendekatan dalam konseling yang mencoba untuk menggabungkan beberapa pendekatan dalam konseling untuk membantu memecahkan masalah klien. Penggabungan ini dilakukan untuk membantu klien yang mempunyai perbedaan gaya dan pandangan hidup.

BAB III
PENUTUP

Manusia sebagai makhluk sosial (Zoon Politicon) dalam hidup sehari-hari tidak lepas dari unsur agama dan budaya, namun dalam proses berjalannya akan muncul permasalahan yang timbul dalam beragama serta berbudaya, untuk itulah dibutuhkan proses konseling lintas agama dan budaya.
Konseling lintas agama dan budaya terdiri dari tiga elemen penting, yaitu konseling, agama dan budaya, sehingga dalam penjelasannya tentang konsep konseling lintas agama dan budaya akan diawali dengan penjelasan tentang konseling, agama dan budaya seperti yang telah tertulis pada bab pembahasan.
Konsep konseling lintas agama terdiri dari lima hal, yaitu : 1. Konselor lintas agama dan budaya harus sadar akan nilai dan norma, 2. Konselor sebaiknya sadar terhadap karakteristik konseling secara umum, 3. Konselor harus mengetahui pengaruh kesukuan, keagamaan dan mereka harus mempunyai perhatian terhadap lingkungan serta agamanya, 4. Konselor tidak boleh mendorong klien untuk dapat memahami agama dan budaya yang dianutnya, 5. Konselor lintas agama dan budaya dalam melaksanakan konseling harus mempergunakan pendekatan ekletik.
Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk penulis, guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah, terakhir penulis tidak lupa pula mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah.

DAFTAR PUSTAKA

Syamsu Yusuf, Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung: Rosdakarya, 2005
Singgih Gunarsa, Konseling dan Psikoterapi, Jakarta: Gunung Mulia, 2007
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996
Bahri Ghozali, Agama Masyarakat, Yogyakarta: Pustaka Fahima, 2005
Lebba Pongsibane, Islam dan budaya Lokal, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2008
Boy Soedarmadji, Konseling lintas Budaya, http://www.boy_soedarmadji.wordPress.com, diakses 12 Februari 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

komentar utk tulisan ku dong…

fuadhasyim di periode khalifah
Abdul Cholik di periode khalifah
dedekusn di Puasa
dedekusn di karya ilmiah 2

Hasil Karya Mr.Foe

Kumpulan Karya Mr. Foe

%d blogger menyukai ini: