Fuadhasyim’s Blog

observasi penerapan konseling lintas agama dan budaya

Posted on: Mei 29, 2009

PENERAPAN NILAI-NILAI AGAMA DAN BUDAYA DALAM PROSES KONSELING LINTAS AGAMA DAN BUDAYA PADA MASYARAKAT
(Studi Observasi pada Masyarakat Desa Babat Kabupaten Lamongan Jawa Timur)

BAB I
PENDAHULUAN

Manusia sebagai makhluk sosial (Zoon Politicon) dalam hidup sehari-hari tidak lepas dari unsur agama dan budaya karena Sifat hakiki manusia adalah makhluk beragama (homo religious), selain itu manusia juga lahir sebagai manusia yang berbudaya namun dalam proses berjalannya akan muncul permasalahan yang timbul dalam beragama serta berbudaya, untuk itulah dibutuhkan proses konseling lintas agama dan budaya.
Namun tidak banyak masyarakat yang mengetahui dan menyelesaikan dengan benar masalah-masalah yang dihadapinya terkait permasalahan keagamaan dan kebudayaan, masyarakat hanya akan menyelesaikan permasalahan secara sepihak atau kalau pun berkonsultasi masyarakat awam akan lebih memilih untuk berkonsultasi kepada kyai atau dukun.
Sehingga posisi seorang konselor dalam masyarakat sebenarnya sangatlah penting karena dari konselor yang mampu memahami situasi keagamaan dan kebudayaan masyarakat yang baik serta dilengkapi dengan ilmu kekonselingan yang dapat membantu sesuai dengan bidang dan kemampuannya.
Fenomena yang lazim terjadi dan biasa dikerjakan pada masyarakat pada umumnya ada yang mucul dari nilai-nilai keagamaan ada pula yang muncul dari nilai-nilai keagamaan, sedangkan tidak setiap kebudayaan yang terdapat dimasyarakat sesuai dengan ajaran agama, untuk itulah salah satu fungsi konselor berperan dalam memberikan proses bimbingan serta konseling.

BAB II
HASIL OBSERVASI

A. Profil singkat Desa Babat
Desa babat adalah salah satu desa yang berada pada kabupaten Lamongan Jawa timur, desa yang juga memiliki nama kecamatan ini terletak pada barat kota Lamongan, menurut para penduduk desa ini disamakan seperti layaknya perempatan jalan yang selalu ramai dilewati kendaraan, karena memang posisi desa babat sendiri yang menghubungkan antara kabupaten Lamongan dengan Bojonegoro serta Kabupaten Tuban dengan Jombang, sehingga pusat perekonomian dan kebudayaan yang ada didesa babat sudah setingkat lebih maju dibandingkan desa-desa disekitarnya.
Desa yang juga terkenal melalui makanan khasnya yaitu Wingko Babat ini berpenduduk mayoritas muslim yang juga sebagian terdiri dari kalangan Nahdhatul Ulama’ (NU) meski juga terdapat penduduk Non muslim dan Non Nahdhatul ulama, masyarakat pada desa babat termasuk masyarakat yang masih memiliki kebudayaan keagamaan yang masih dijaga dengan baik, meskipun tidak semua elemen mayarakat yang ikut menjaganya.
B. Identifikasi Kebudayaan
Kebudayaan yang penulis observasi didesa babat merupakan jenis kebudayaan keagamaan, kebudayaan tersebut diantaranya :
1. Budaya tidak menegokkan kepala terlebih dahulu ketika salam saat sholat, sebelum imam mengucapkan salam kedua kali dengan menengok kearah kiri.
2. Budaya menunggu azan pada masjid jami’ terlebih dahulu sebelum mushola-mushola disekitar pusat desa babat azan, budaya ini dilakukan baik saat bulan ramadhan maupun tidak dalam bulan ramadhan.
C. Hubungan kebudayaan dengan Nilai Keagamaan
Melihat mayoritas penduduk desa babat adalah Islam, maka dapat disimpulkan secara singkat bahwa kebudayaan yang berkembangan pada masyarakat merupakan kebudayaan kental akan nilai keislaman, hubungan antara kebudayaan yang berkembangan dimasyarakat desa babat dengan nilai-nilai keagamaan adalah suatu bentuk pengamalan dari ajaran-ajaran keagamaan dalam agama Islam yang sudah diterapkan secara turun temurun sehingga menjadikan proses pengamalan tersebut menjadi suatu kebudayaan.
D. Hubungan Nilai Agama dan Budaya dengan Konseling
Hubungan antara nilai-nilai agama dan budaya dengan konseling adalah saling menguatkan, fungsi seorang konselor lintas agama dan budaya yang efisien didesa babat adalah sebagai pembimbing dan sebagai konselor. Pembimbing didesa babat difungsikan kepada kalangan masyarakat awam yang mungkin masih awam atas kebudayaan yang ada didesa babat, selain itu pembimbing dapat difungsikan sebagai pembimbing atau penyuluh kepada anak muda atau remaja yang belum faham dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kebudayaan yang telah dijaga secara turun temurun, pembimbing lintas agama dan budaya juga berfungsi memberikan edukasi kepada remaja tentang cara memfilter budaya-budaya baru yang berkembang dikalangan remaja desa babat.
Seorang konselor lintas agama dan budaya pada desa babat bisa berfungsi sebagai tempat konsultasi atas permasalahan yang mungkin terjadi dan ada pada kalangan masyarakat dari berbagai elemen, karena meski merupakan pusat keramaian pada realitas sebenarnya sangat membutuhkan para ahli dibidangnya seperti masih belum adanya rumah sakit yang memadai dengan tenaga paramedis yang mumpuni, bahkan profesi sebagai seorang psikolog atau pun konselor mungkin masih belum laku dan dibutuhkan oleh masyarakat karena kurangnya pengetahuan masyarakat itu sendiri, sehingga fungsi konselor seharusnya sangat komplek dan penting.
BAB III
PENUTUP
Manusia sebagai makhluk sosial (Zoon Politicon) dalam hidup sehari-hari tidak lepas dari unsur agama dan budaya karena Sifat hakiki manusia adalah makhluk beragama (homo religious), selain itu manusia juga lahir sebagai manusia yang berbudaya namun dalam proses berjalannya akan muncul permasalahan yang timbul dalam beragama serta berbudaya, untuk itulah dibutuhkan proses konseling lintas agama dan budaya.
Desa babat adalah salah satu desa yang berada pada kabupaten Lamongan Jawa timur, desa yang juga memiliki nama kecamatan ini terletak pada barat kota Lamongan, Kebudayaan yang penulis observasi didesa babat merupakan jenis kebudayaan keagamaan, kebudayaan tersebut diantaranya : 1. Budaya tidak menegokkan kepala terlebih dahulu ketika salam saat sholat, sebelum imam mengucapkan salam kedua kali dengan menengok kearah kiri, 2. Budaya menunggu azan pada masjid jami’ terlebih dahulu sebelum mushola-mushola disekitar pusat desa babat azan, budaya ini dilakukan baik saat bulan ramadhan maupun tidak dalam bulan ramadhan.
Hubungan antara kebudayaan yang berkembangan dimasyarakat desa babat dengan nilai-nilai keagamaan adalah suatu bentuk pengamalan dari ajaran-ajaran keagamaan dalam agama Islam, Hubungan antara nilai-nilai agama dan budaya dengan konseling adalah saling menguatkan, fungsi seorang konselor lintas agama dan budaya yang efisien didesa babat adalah sebagai pembimbing dan sebagai konselor.
Penulis menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian laporan terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk penulis, guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian laporan, terakhir penulis tidak lupa pula mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT serta ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan laporan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

komentar utk tulisan ku dong…

fuadhasyim di periode khalifah
Abdul Cholik di periode khalifah
dedekusn di Puasa
dedekusn di karya ilmiah 2

Hasil Karya Mr.Foe

Kumpulan Karya Mr. Foe

%d blogger menyukai ini: